Senin, 25 Maret 2013

Semoga saya bisa memaparkannya, karena saya ragu. Terlalu pribadikah kalau saya ceritakan disini? Namun, hati saya tak tenang saya harus membaginya, saya harus melepaskannya.
Ceritanya, ini tentang musibah yang menimpa kami, seorang teman  meminjam uang dengan jumlah yang cukup lumayan besar, tidak etis kalau saya sebutkan nominalnya disini, karena saya merasa hubungan teman dekat, saya percaya begitu saja. Namun, sayangnya ini berakhir seperti penipuan, janji yang dia berikan tak kunjung ditepati hingga hari ini…. Waktu itu tahun 1997 uang seribu sama dengan/senilai seratus ribu sekarang.
Tidak hanya itu, awal masalahnya karena merasa teman, saya tidak minta jaminan apa-apa dan aku pikir uangnya juga saya pinjamkan ke Bank atas nama saya dengan jaminan potong gaji saya, itulah yang membuat saya kecewa, dan marah sekali. Saya tahu justru ketika akhirnya seperti ini. Saya marah, pasti!, kecewa, jelas ! komplein hampir selalu saya menyinggung masalah tersebut dengan istri saya. Betapa tidak, itu uang pinjaman Bank dan gaji saya dipotong tiap bulan selama 36 bulan, uang yang kami impikan akan belikan rumah masa depan kami. Ya, Allah raib begitu saja…..
Namun, menjelang ulang tahun pernikahan kami saya terus berpikir ulang, saya sudah minta maaf ribuan kali atas kekhilafan saya kepada istri saya, tanpa bermaksud menyembunyikan apa-apa dari istri saya. Entahlah, saya pernah membahas dengan istri,  saya pernah membaca pilar-pilar dalam sebuah perkawinan, salah satunya adalah keterbukaan, apalagi ini masalah finansial. Bukankah meja akan sanggup berdiri dengan empat kakinya, dibandingkan satu kakinya patah, iya kan, begitupun pilar perkawinan ini?
Intropeksi ini terus saya lakukan, saya banyak merenung, istri saya tahu saya hanya khilaf, saya yakin itu, saya hanya sedang berproses menerima keadaan ini, menerima kenyataan bahwa gaji kami ludes, menerima bahwa kami harus mulai dari nol lagi, dan  menerima bahwa istri dan saya juga hanyalah korban saja atas sikap ssya yang pada awalnya hanya ingin menolong seorang teman. Dan, yang terpenting saya harus menerima inilah keputusan Allah kepada kami, mungkin kami sedang diuji atau ditegur?, Wallahuallam.
Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 2008 terulang kejadiannya, datang seorang teman dengan dalih ingin kerja sama usaha bengkel, dan karena saya belum lunas pinjaman Banknya, akhirnya saya pinjamkan atai nama teman saya sesama mengajar di SMP Negeri di Kota Musi Banyuasin Sumatera Selatan, Saya merasa tertarik ajakannya dan saya setujui dengan modal yang saya pinjamkan dari teman saya, Bengkelpun dibuka sebagai usaha bersama, sehari dua hari lancar sebulan dua bulan lancar tapi bulan ketiga sudah ada tanda-tanda penghianatan, saya kecewa dan dengan emosi yang tak terkontrol akhirnya usaha bersama itu saya serahkan kedia seutuhnya dengan catatan dia punya utang sama sama, dia pun menyetujui, tapi hanya menyetujui saya tidak membayar utanya sampai hari ini. Dengan dua kejadian itu saya merasa saya betul-betul sedang diuji, mengetahu hutang saya pada teman saya saya bayar ketika saya meminjam kridit bankm memang belum lunas tapi saya tetap akan membayarnya karena itu utang saya pada teman saya. Akhirnya melalui proses waktu perlahan lahan saya mulai menerima keadaan ini, saya mulai realistis, saya berpikir lagi haruskah kualitas dan hubungan kami rusak hanya karena hal ini? Mungkin, inilah salah satu riak dalam bahtera yang kami jalani, adilkah jika semua ini yang telah kami bina bersama, ditukar dengan rupiah (bukan bermaksud mengecilkan arti uang uang tersebut) Tetapi, saya tidak mau mempertaruhkan istri, saya tidak mau semua rusak karena ini, saya berusaha membentuk komunikasi kami kembali, mencoba berdoa bersamanya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik,
Orang bijak pernah berkata :
 Kalau ingin bahagia dan sehat, fokuslah pada apa yang kita punya bukan pada yang kita tidak punya…”
Mungkin, kalau saya boleh mengartikan kita mesti banyak bersyukur pada apa yang telah kita miliki, daripada kita sibuk meratapi apa yang kita tidak punya,
Saya mantap dengan pilihan saya, saya fokus pada keluarga, dan pada semua yang ada sekarang, saya tidak mau meratapi uang itu lagi, saya belajar mengikhlaskannya,
Kini, menghitung hari menuju ulangtahun pernikahan kami, saya belajar sesuatu, saya belajar mencintainya dengan cara memaafkan setulus hati kesalahan yang telah dibuatnya…
Ya Allah, Semoga saya bisa terus bersamanya, lebih lama dari selamanya…….

Rabu, 08 Agustus 2012

Sahabatku yang baik.....
Jika pagi hari ini saya belum bisa berbuat baik pada sesama semata itu bukan kehendakku, sebab saya yakin semua sahabatku juga sama berkeinginan utk berbuat baik.... beribadah dengan baik.... berpuasa dengan baik.... namun hasil akhir apa yang telah terjadi setelah ini sampai nanti malam adalah suatu yang diluar keinginan manusia.... Semoga kita semua dapat petunjuk dan kekuatan dari Allah SWT agar dapat dan terus berusaha menjadi hamba yang dipilihnya untuk menghamba kepada-Nya.... Amiiin.

Sabtu, 04 Agustus 2012


Doa Nabi Yunus as

Nabi Yunus as adalah salah seorang dari nabi-nabi Ilahi. Beliau as menyeru umat kepada tauhid dan pengesaan Tuhan dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi seruan dan tabligh lama ini tidak memberikan hidayat kepada umat dan mereka berkeras kepala kepada kekafiran. Pada saat inilah nabi Yunus as merasa marah terhadap kebodohan dan kekafiran mereka, sebelum meminta izin kepada Allah swt beliau as telah keluar dari kota tersebut dan menuju ke gurun. Beliau as terus pergi hingga sampai ke laut. Dengan kekuasaan Ilahi seekor ikan besar membuka mulutnya dan menelan nabi Yunus. Nabi Yunus as terpenjara di perut ikan tanpa dikunyah olehnya dan beliau as menyadari ini adalah balasan perbuatan kepada beliau as yang melepaskan tugas tanpa seizin Allah swt.

Dalam persyaratan demikian dengan hati yang patah dan terputus dari harapan dari semua tempat beliau as berdoa dan mengatakan:

لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang lalim.”[1]

Allah swt di dalam al-Qur’an berfirman: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”[2]

Nabi Yunus as yang selamat dari perut ikan dan laut yang dalam, kembali ke tempat yang diperintahkan semula dan umat yang telah sadar semasa kepergian beliau as, mengerumuni beliau as dan memilih jalan suci dan penyembahan kepada Allah swt di depan mereka.

Beberapa Poin Penting

1- Pada akhir kisah nabi Yusuf as Allah swt berfirman: “وكذلكَ نُنجِى المؤمنين” (Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman). Seakan-akan kisah nabi Yunus as terdapat di dalam al-Qur’an untuk menyatakan hukum universal dan sunnatullah yang abadi ini yaitu: Menyelamatkan kaum Mukminin yang tertimpa musibah adalah sebuah program continyu Allah swt yang berjalan pada setiap masa, tempat dan seluruh generasi.

Sangat jelas bahwa ini adalah berita gembira dan menyenangkan bagi kita semua.

Nabi Islam kita Muhammad saw bersabda: “Apakah kalian ingin aku tunjukkan kepada “ism a’dham Ilahi” (nama agung Allah) yang setiap kali Allah swt diseru dengan nama itu akan memberikan jawaban dan setiap kali dimohonkan dari-Nya dengan nama tersebut akan ditimpali? Itulah doa nabi Yunus as yang beliau baca dalam kegelapan:
“لا إِلهَ إلّا أنتَ سُبْحانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظّالمينَ”

Seseorang bertanya: Wahai Rasulallah! Apakah doa ini khusus untuk nabi Yunus ataukah bagi seluruh kaum Mukminin?

Nabi saw menjawab: Apakah engkau tidak mendengar lanjutan ayatnya: “وَكَذلِكَ نُنْجِى المُؤمِنينَ”.[3]

2- Kaum Urafa’ Ilahi memiliki perhatian luar biasa terhadap doa nabi Yunus as dan menamakannya dengan “Zikir Yunusiyah”.

3- Doa-doa para maksum (orang-orang yang terjaga dari perbuatan dosa) memiliki akan Qur’ani. Karena mereka adalah putera-putera al-Qur’an dan menimba manfaat dari makrifat jernih Qur’ani. Imam Husain as dengan mengutip doa nabi Yunus mengatakan di dalam doa Arafah:

لا إلهَ إلّا أنْتَ سُبْحانَكَ إنّى كُنْتُ مِنَ الظالمينَ. لا إلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مَنَ المُسْتَغْفِرينَ. لا إلهَ إلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ إنّى كُنْتُ مِنَ المُوَحِّدينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ الخائِفينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ الوَجِلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ الرَّاجينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ الرّاغِبينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ المُهَلِّلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ السّائِلينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ المُسَبِّحينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ اِنّى كُنْتُ مِنَ المُكَبِّرينَ. لا اِلهَ اِلّا أَنْتَ سُبْحانَكَ رَبّى ورَبُّ آبائي الأَوَّلينَ

“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meminta pengampunan. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meng-Esakan-(Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang khawatir (terhadap azab-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang takut (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berharap (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menginginkan(Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertahlil (mengucapkan la ilaha illallah [Tiada Tuhan Selain Allah]). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang meminta (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertasbih (kepada-Mu). Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang bertakbir. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau Tuhanku dan Tuhan ayah-ayahku yang terdahulu.”

Beberapa Hadis Seputar Keutamaan Doa Ini

1- Nabi Islam Muhammad saw bersabda: “Setiap orang Muslim sakit yang membaca doa ini, bila dalam sakitnya (tidak memperoleh kesembuhan dan) meninggal dunia maka akan diberikan pahala orang yang syahid, dan bila mendapatkan kesembuhan dan membaik maka seluruh dosanya diampuni.”

2- Rasulullah saw bersabda: Apakah kalian ingin aku beritahukan tentang sebuah doa yang setiap kali kalian baca dalam setiap kondisi sedih dan bencana maka kelapangan akan diperoleh? Para sahabat menjawab: Ya, Wahai Rasulallah. Beliau saw bersabda: “(Yaitu) doa nabi Yunus as yang menjadi santapan ikan: “لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ
3- Imam Shadiq as berkata: “Aku heran terhadap orang yang tertimpa kesedihan, bagaimana tidak membaca doa ini “لَا اِلهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَکَ اِنِّی کنْت مِنَ الظّالِمِیْنَ”, karena Allah swt selanjutnya berfirman: “فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نجََّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَ كَذَالِكَ نُنجِى الْمُؤْمِنِين”

4- Almarhum Kulaini menukil: Seseorang berasal dari Khurasan bertemu dengan Imam Shadiq as antara Mekah dan Madinah di Rabadhah dan menyatakan: Semoga aku menjadi taruhan Anda! Hinnga kini aku masih belum dikaruniai anak, apa yang harus aku lakukan?

Imam Shadiq as menjawab: “Ketika engkau kembali ke negerimu dan ingin mendatangi isterimu maka bila engkau menginginkah demikian bacalah ayat: “وَ ذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فىِ الظُّلُماَتِ أَن لَّا إِلَاهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنىِّ كُنتُ مِنَ الظَّلِمِين”, Insya Allah engkau akan dikarunia anak.”

Kamis, 09 Juni 2011

THALAQ
a.   Pengertian Thalaq
Thalaq ialah melepaskan ikatan nikah dari pihak suami dengan mengucapkan lafadz yg tertentu, misalnya suami berkata terhadap isterinya : “engkau telah kutalaq” (dengan ucapan ini ikatan nikah menjadi lepas, artinya suami isteri jadi bercerai
Thalaq yaitu perbuatan yang halal, namun juga suatu hal yang dibenci oleh Allah
b.   Rukun Thalaq
Rukun thalaq ada tiga yaitu :
  1. suami yang menthalaq
  2. isteri yang dithalaq
  3. ucapan yang digunakan untuk menthalaq
c.   Ucapan thalaq
Ucapan untuk menthalaq isteri ada dua :
  1. Ucapan sharih yaitu ucapan yang tegas, maksudnya untuk menthalaq. Thalaq itu jatuh jika seseorang telah mengucapkan dengan sengaja, walaupun hatinya tidak berniat menthalaq isterinya.
a.       Thalaq artinya bercerai
b.      Pirak artinya memisahkan diri
c.       Sarah artinya lepas
  1. Ucapan yang kinayah yaitu ucapan yang tidak jelas maksudnya, mungkin ucapan itu maksudnya talak lain. Ucapan talak kinayah memerlukan adanya niat, artinya jika ucapan talak itu dengan niat, sah talaknya dan jika tidak disertai niat, maka talaknya belum jatuh.
a.       Pulanglah engkau kepada ibu bapakmu
b.      Kawinlah engkau dengan orang lain
c.       Saya sudah tidak hajat lagi kepadamu
Keinginan mencerai isteri walaupun sudah kuat sekali dan keadaan rumah tangga sudah berantakan dan suami sudah tidak serumah lagi, tetapi apabila belum diucapkan, maka ikatan suami isteri masih tetap, sebagaimana dinyatakan dalam hadits :
“Sesungguhnya Allah mengampuni dari ummatku apa yang dikandung di dalam hatinya, namun belum dikerjakan atau dikatakan dengan lisannya” (HR. Bukhori Muslim)
d.      Cerai dengan surat
Thalaq dengan surat yang ditulis suami sendiri dan dibaca hukumnya sama dengan lisan, tetapi jika surat itu tidak dibaca sebelum dikirim kepada isterinya, maka sama dengan kinayah.
e.       Cerai dengan dipaksa
Cerai dengan dipaksa oleh orang lain tanpa kemauannya sendiri, hukumnya sama dengan kinayah, yaitu kalau memang hatinya membenarkan, maka jatuhlah thalaq itu dan kalau tidak, maka thalaq itu belum dianggap jatuh.
f.       Ta’liq thalaq
Menta’liqkan thalaq ialah menggantungkan thalaq dengan sesuatu, misalnya suami berkata : “Engkau tertalaq  apabila engkau pergi dari rumah ini tanpa ijin saya” atau ucapan lain yang sejenis/semacam ucapan itu. Jika si Isteri meninggalkan rumah tanpa ijin suami maka jatuhlah thalaqnya.
g.      Bilangan Thalaq
Seseorang berhak menthalaq isterinya dari satu sampai tiga kali thalaq. Thalaq satu atau dua boleh ruju’ kembali sebelum habis ‘iddahnya dan boleh kembali sesudah ‘iddah
Hadits

Rabu, 08 Juni 2011

Air matanya mengalir, terucap lirih, 'Ya Allah ampunilah hambaMu ini' aku masih teringat ketika mengendarai mobil, aku sudah berhati-hati, aku membawa mobilku dengan baik, tetapi entah kenapa masih saja aku mengalami kecelakaan? aku sudah mengantisipasi semua hal, tetap juga kena musibah. Peristiwa yang dirasakan membuat aku tenggelam dalam kesedihan, tidak mengerti kenapa semua itu terjadi pada diriku. Adakah yang bisa menjawabnya, Ribuan pertanyaan, diriku tidak pernah menemukan jawabannya. Mengapa musibah ini membuat hidupku menderita? Hanya Allahlah mengetahui jawabannya, kita hanyalah aktor yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mengikuti skenarionya. Allah telah menyiapkan alur cerita, ada bagian cerita yang indah, ada cerita yang penuh isak dan tangis.
Teman, disaat hati remuk redam, tetaplah bersama Allah. jangan melalaikan saat teduh anda dg tetap menjalankan sholat maka Allah menyembuhkan luka hati anda.
Teman,Yakinlah akan pertolongan Allah bahwa semua cobaan,ujian dan derita didalam hidup selalu ada kebahagiaan. Dulu dihina, sekarang saat dimuliakan, dulu dipinggirkan, sekarang dihormati, dulu menderita, sekarang bahagia. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Jumat, 03 Juni 2011

Nasehatku

Sahabatku, Seberat apapun masalah yang anda hadapi yang terpenting mendekatkanlah diri kepada Allah, dengan berdoa dan memohonlah kepada Allah, beban hati menjadi ringan dan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak akan membiarkan anda berjalan dalam kesendirian dan kesepian.